CERPEN 2: “Langkah Kecil di Bawah Hujan”

 




CERPEN 2: “Langkah Kecil di Bawah Hujan”


Diskusi berlangsung hingga senja. Ruangan kreatif yang biasanya ramai mulai sepi, menyisakan suara AC dan ketikan lembut di keyboard. Raka memfokuskan layar pada sketsa baru: figur mahasiswa yang berjalan keluar dari sebuah portal bercahaya dengan latar langit penuh garis neon.

“Kalau kita tambahkan tagline ‘Melangkah ke Ruang Tanpa Batas’, menurutmu cocok?” tanya Nayla.

Raka mengangguk pelan. “Cocok. Tapi aku mau tone warna agak lebih hangat biar nggak terlalu dingin.”

“Oke.”
Nayla mendekat, berdiri di sampingnya. “Warnanya kamu ganti, nanti aku sesuaikan lagi dengan narasi.”

Dari jarak sedekat itu, ia bisa mendengar napas Raka yang pelan dan teratur. Sementara Raka tampak jelas berusaha menjaga jarak agar tidak terlihat canggung. Ia menggeser kursinya sedikit, namun tidak menjauhkan Nayla agar diskusi tetap mudah.

“Kalau aku terlalu dekat bilang ya,” kata Nayla tiba-tiba.

Raka refleks menoleh dan hampir bertabrakan dengan wajah Nayla. Ia langsung kaku seperti robot yang kehabisan baterai.

“Eh… ngg–nggak apa-apa,” katanya cepat.

Nayla tersenyum kecil. Reaksi itu terlalu jujur untuk ditutupi.


Di sudut ruangan, Dimas memperhatikan mereka sambil mengunyah roti sisa rapat. Ia menyandarkan tubuh pada meja dan mengangkat alis.

“Kalian kelihatan kayak adegan awal drama,” katanya.

Raka spontan melempar tatapan tajam. “Dim, bisa nggak kamu pergi lima menit?”

Nayla malah tertawa. “Biarin aja, Rak. Aku sudah terbiasa dengan anak-anak jurusan Komunikasi yang lebih heboh dari ini.”

Dimas menepuk dada. “Akhirnya ada yang mengerti aku.”

Tak lama kemudian, Santi muncul membawa dua cup minuman boba. “Aku beliin kalian minuman. Kalian kelihatannya bakal lembur.”

“Wah, thank you, San,” kata Nayla.

Raka mengambil minumannya pelan-pelan, seakan takut menjatuhkan. “Makasih… banyak.”

Santi menatapnya lama, lalu mendekat ke Nayla dan berbisik, “Anak ini lucu juga, tapi kok kayak takut ngomong sama manusia?”

Nayla hampir tersedak minumannya.


Malam turun perlahan. Lampu-lampu kampus menyala, memantulkan cahaya lembut di jalanan basah sisa hujan siang tadi. Ruangan tinggal mereka bertiga—Nayla, Raka, dan Dimas yang setengah ketiduran sambil memegangi botol minum.

“Kita break dulu, ya?” kata Nayla.

Raka mengangguk. Mereka keluar ruangan untuk mengambil udara segar. Dermaga kecil di dekat taman kampus menjadi tempat favorit mahasiswa bersantai, dan malam itu hanya ada dua atau tiga pasangan yang duduk sambil berbicara pelan.

Nayla dan Raka berdiri di tepi dermaga, memandangi kolam yang tenang. Lampu-lampu kecil di sekitar taman memberi kilau kekuningan yang hangat.

“Aku tadi lihat kamu gambar sambil nggak pernah berhenti,” kata Nayla. “Kamu selalu kayak gitu kalau lagi fokus?”

“Iya,” jawab Raka. “Soalnya kalau aku berhenti, idenya suka hilang.”

“Kamu suka gambar dari kecil?”

Raka mengangguk. “Ayahku arsitek. Dia jarang di rumah, tapi kalau pulang pasti bawain aku kertas gambar. Itu jadi kebiasaan yang kebawa sampai sekarang.”

“Oh…” Nayla menatapnya. “Ayahmu jauh, ya?”

“Lumayan.”
Raka mengusap tengkuknya, tanda ia mulai tidak nyaman dengan topik itu. “Tapi nggak apa. Aku sudah biasa.”

Nayla tersenyum simpati. “Aku juga cuma tinggal sama ibu. Jadi, aku ngerti rasanya.”

Mereka terdiam sejenak, tetapi bukan keheningan yang canggung. Lebih seperti ruang aman untuk dua orang yang sama-sama tidak banyak bercerita pada dunia.

Raka menarik napas perlahan. “Kamu sendiri kenapa masuk Komunikasi?”

“Karena aku suka kata-kata. Rasanya… kata-kata bisa menyembuhkan lebih cepat daripada obat.”

Raka menatapnya lama, dan untuk pertama kalinya sejak pagi, ia benar-benar menatap mata Nayla tanpa mengalihkan pandangan.

“Kamu beda,” katanya tiba-tiba.

Nayla terkejut. “Beda gimana?”

“Kamu… gampang bikin orang nyaman.”

Kalimat itu membuat Nayla merasakan sesuatu yang menghangat di dadanya. Jarang ada yang menilai dirinya seperti itu—biasanya orang hanya bilang ia cerewet atau terlalu observatif.

“Kamu juga beda,” balas Nayla. “Kamu diam, tapi pikiranmu banyak. Aku suka orang yang kayak gitu.”

Raka langsung menunduk lagi, telinganya memerah.


Tak lama kemudian, Fajar mengirim pesan di grup panitia:
“Besok pagi ada presentasi konsep di depan sponsor. Jangan terlambat.”

Nayla menutup ponselnya. “Besok kita harus siap. Kamu bisa selesaiin layout utama malam ini?”

Raka menimbang. “Bisa. Tapi lebih enak kalau kamu ada juga buat nentuin tulisan mana yang pas.”

“Kita lembur?” tanyanya dengan nada bercanda.

Raka mengangguk dengan keseriusan penuh. “Kalau kamu mau… iya.”


Mereka kembali ke ruangan. Dimas sudah tidur di atas dua kursi yang disatukan. Santi mengirim pesan bahwa ia sudah pulang duluan. Laptop dan tablet kembali menyala, dan layar ruangan dipenuhi cahaya biru.

Waktu berjalan cepat saat mereka bekerja bersama. Nayla menulis kalimat demi kalimat, menyesuaikan dengan visual yang Raka buat. Sesekali mereka berdiskusi tentang cahaya, warna, atau kesan simbolis dari elemen tertentu.

Nayla semakin kagum. Bukan hanya karena skill Raka tinggi, tapi karena laki-laki itu berubah ketika menggambar. Dia terlihat hidup.

Ketika jam menunjukkan pukul 11 malam, poster itu akhirnya jadi.

Dan indah.

Kombinasi antara imajinasi Raka dan kata-kata Nayla menciptakan sesuatu yang terasa punya nyawa.

“Akhirnya selesai…” Nayla bersandar ke kursi, lelah tapi puas.

Raka memandang layar, lalu Nayla.

“Hasilnya bagus,” katanya.

“Bagus banget,” Nayla meluruskan.

Raka tersenyum kecil. Senyum yang benar-benar muncul, bukan hanya refleks kesopanan.

“Terima kasih sudah mau kerja sama sama aku,” ucapnya pelan.

Nayla balas tersenyum. “Terima kasih juga sudah bikin visual tercantik yang pernah aku lihat.”

Di luar, hujan kembali turun pelan. Seperti menyambut poster mereka yang telah jadi—atau mungkin menyambut babak baru dalam hubungan yang mulai terbentuk malam itu.


Komentar

Postingan Populer