CERPEN 1: “Langkah Kecil di Bawah Hujan”




CERPEN 1: “Langkah Kecil di Bawah Hujan”

Tokoh-tokoh (6):

  1. Nayla – mahasiswi Ilmu Komunikasi, ceria, observatif

  2. Raka – mahasiswa Teknik Informatika, pendiam dan jago desain

  3. Dimas – sahabat Raka, humoris

  4. Santi – sahabat Nayla, perfeksionis

  5. Bu Mira – dosen Komunikasi Visual

  6. Fajar – ketua panitia festival kampus


BAGIAN 1 (±900 kata)

Hujan turun sejak pagi, membasahi seluruh sudut Kampus Universitas Nusantara. Di depan gedung fakultas, mahasiswa berlalu-lalang sambil menutupi kepala dengan tas, jaket, atau bahkan buku tebal yang mestinya tidak dijadikan payung darurat. Namun di balik suasana gelap yang membuat banyak orang mengeluh, Nayla justru tersenyum kecil.

“Aku suka hujan,” gumamnya sambil menatap genangan air yang memantulkan gedung perpustakaan.

Santi, sahabatnya yang sedang sibuk mengelap kacamatanya, hanya mendengus. “Tentu saja kamu suka. Kamu tidak pernah ribet sama rambut kusut. Aku? Hancur begini,” katanya sambil menunjukkan rambutnya yang mengembang.

Nayla tertawa. “Santai lah, anti-hujan dikit.”

Santi hendak membalas, tapi sebelum sempat bicara, seseorang lewat dengan tergesa-gesa dan cipratan air dari langkahnya membuat sepatu Santi basah.

“Hey!” protes Santi.

Pria itu menoleh panik. “Aduh, maaf! Aku nggak lihat genangannya. Maaf banget ya!” Dia menunduk berulang-ulang sebelum akhirnya berlari masuk ke gedung.

Nayla memperhatikan pria itu. Rambut sedikit acak, jaket hitam, langkah cepat. “Sepertinya anak Teknik,” katanya.

“Anak Teknik atau bukan, dia membuat sepatuku jadi korban,” gerutu Santi.

Namun bagi Nayla, itu hanya detail kecil dari pagi yang menarik. Ada sesuatu pada wajah pria tadi—entah rasa panik atau ketulusannya saat meminta maaf—yang membuatnya memperhatikan lebih lama. Tapi karena Santi masih mengomel, ia mengalihkan fokus untuk menenangkan sahabatnya.


Setelah kelas pertama selesai, Nayla bergegas menuju ruang kreatif untuk rapat panitia festival kampus. Tahun ini, festivalnya lebih besar dari biasanya karena banyak sponsor masuk, dan para panitia harus bekerja lebih keras mempersiapkan konsep visual.

Ruangan itu sudah ramai saat ia tiba. Fajar, ketua panitia, menghampirinya sambil membawa papan tulis kecil.

“Nayla, kamu yang tangani divisi publikasi, kan? Hari ini kita kedatangan tambahan dari Teknik Informatika buat bantu desain poster. Mereka jago vector dan 3D.”

“Oke, siapa orangnya?”

“Dia lagi di pojok, pakai hoodie hitam.”

Nayla menoleh.

Dan ia terdiam sejenak.

Pria yang duduk sambil menatap laptop dengan serius itu adalah orang yang tadi membuat sepatu Santi basah. Raka.

Wajahnya sama—dingin, fokus, dan agak canggung. Rambutnya sedikit menutupi mata, dan headphone menggantung di leher. Tangannya lincah menggeser-geser stylus di tablet grafis.

“Oh, dia,” gumam Nayla.

“Kamu kenal?” tanya Fajar.

“Tidak juga,” jawabnya cepat.

Pertemuan pagi tadi bukanlah sesuatu yang harus dibesar-besarkan, pikirnya. Tapi tetap saja rasanya lucu. Dunia memang kecil.

Fajar memanggil semua untuk berkumpul. “Oke, kita mulai. Ini Raka dari Teknik Informatika yang bakal bantu desain utama. Dan itu Dimas, temannya.”

Dimas melambaikan tangan penuh gaya. “Halo semua. Tenang, aku nggak sepintar Raka, tapi aku ada buat meramaikan suasana.”

Semua tertawa.

“Kamu lucu, Mas,” kata Santi yang tiba-tiba saja muncul di belakang.

“Oh, kamu yang tadi sepatunya kecipratan? Aku tahu dari Raka. Katanya dia panik setengah mati.”

Raka yang duduk tidak jauh dari sana langsung menegakkan badan. “Dim! Diam.”

Dimas tertawa keras.

Nayla menahan tawa, sementara Santi melempar pandangan tajam ke arah Raka. “Sudah, aku maafkan. Tapi kamu harus bantu bersihin sepatuku kalau kena lagi.”

Raka mengangguk kecil. “Iya… maaf ya.”

Rapat pun dimulai. Bu Mira, pembimbing desain festival, masuk sambil membawa kumpulan sketsa. “Baik, anak-anak. Festival tahun ini bertema ‘Ruang Tanpa Batas’. Saya ingin poster utamanya bisa menggambarkan kebebasan berekspresi.”

Ia menatap Raka. “Saya dengar kamu jago ilustrasi digital. Kamu siap?”

Raka mengangguk pelan. “Siap, Bu.”

“Bagus. Kamu kerja sama dengan Nayla untuk konsep visual dan tagline.”

Sekali lagi Nayla terpaku. “Saya, Bu?”

Bu Mira mengangguk. “Kamu penulis terbaik di jurusanmu. Kalian berdua kombinasi yang bagus.”

Nayla tersenyum tipis. Tapi hatinya sempat gemetar aneh. Bekerja bersama seseorang yang baru saja ia lihat berlari tergesa-gesa di tengah hujan… rasanya seperti skenario drama kampus yang klise namun menyenangkan.


Setelah rapat selesai, Nayla menghampiri Raka yang sedang merapikan laptop.

“Hey,” sapa Nayla. “Aku Nayla. Kayaknya kita bakal sering kerja bareng.”

Raka menoleh perlahan. “Iya. Maaf soal kejadian tadi pagi.”

“Sudahlah,” balas Nayla sambil tertawa kecil. “Lagipula bukan aku yang kena.”

Raka mengusap tengkuknya, kebiasaan yang ia lakukan saat gugup. “Tetap saja… aku harusnya lebih hati-hati.”

“Kita mulai kapan untuk konsepnya?”

“Sekarang boleh,” jawabnya. “Aku sudah punya beberapa sketsa awal.”

Nayla mencondongkan tubuh untuk melihat layar laptopnya.

Dan jujur saja, ia terpukau.

Di layar ada ilustrasi gedung kampus yang dipadukan dengan latar galaksi, garis neon, dan figur mahasiswa yang tampak melangkah keluar dari bingkai cahaya. Visualnya terasa dalam dan penuh makna.

“Keren banget…” bisik Nayla.

Raka tidak menatapnya. “Masih kasar. Banyak yang perlu diperbaiki.”

“Tidak. Ini sudah bagus. Tinggal aku buatkan narasi pendukungnya.”

Dimas tiba-tiba menyenggol bahu Raka. “Tuh kan, aku bilang juga pasti disukai.”

Raka menatap temannya dengan malas. “Diam.”

Nayla tertawa pelan. “Kalian lucu.”


Ketika mereka mulai berdiskusi lebih dalam, hujan kembali turun di luar jendela. Rintiknya mengetuk kaca ruangan, menciptakan suasana tenang yang kontras dengan hiruk pikuk kampus.

Nayla memperhatikan pantulan cahaya dari layar laptop yang mengenai wajah Raka. Ada sesuatu yang lembut dari cara dia fokus bekerja. Tidak banyak bicara, tapi jelas ia punya dunia luas di dalam pikirannya.

“Raka,” panggil Nayla.

“Hmm?”

“Hujan bikin kamu terburu-buru ya tadi pagi?”

Raka menegang sejenak. “Iya. Aku takut telat ngumpulin proyek.”

“Oh.”

“Tapi gara-gara itu… aku nyipratin sepatu temanmu. Maaf lagi.”

“Sudah kubilang, nggak apa.” Nayla tersenyum, kemudian berkata, “Justru kalau tidak terjadi, kita mungkin nggak akan bicara sejauh ini.”

Raka memandangnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Seolah baru sadar bahwa sebuah langkah terburu-buru di bawah hujan pagi tadi telah membawa mereka pada pertemuan yang jauh lebih besar.



Komentar

Postingan Populer