CERPEN 3: “Langkah Kecil di Bawah Hujan”




CERPEN 3: “Langkah Kecil di Bawah Hujan”


Presentasi pagi itu dimulai lebih cepat dari perkiraan. Ruang seminar dipenuhi panitia, beberapa perwakilan sponsor, dan dua dosen pembimbing. Raka berdiri di depan dengan laptop di tangannya, sementara Nayla duduk di samping layar proyektor untuk menyampaikan narasi.

Fajar membuka acara dengan bahasa formal, lalu memberi isyarat agar mereka maju.

“Baik, divisi visual dan publikasi—silakan.”

Nayla dan Raka saling bertukar pandang sebentar.

“Ayo,” bisik Nayla.

Raka mengangguk, meski terlihat gugup.

Begitu slide pertama muncul, ruangan langsung menjadi tenang. Poster yang mereka buat terpampang jelas di layar: seorang mahasiswa melangkah keluar dari portal bercahaya, dengan latar gedung kampus dan garis neon yang menghubungkan langit.

Nayla mulai berbicara.

“Tema ‘Ruang Tanpa Batas’ kami terjemahkan sebagai keberanian mahasiswa untuk keluar dari zona nyaman. Visual ini menggambarkan bagaimana setiap langkah kecil membuka kemungkinan baru… bahkan jika langkah itu dimulai dari hal yang sederhana.”

Ia melirik Raka sebentar. Raka menatap poster itu dengan ekspresi serius—tapi juga penuh kebanggaan.

“…Seperti langkah di bawah hujan,” lanjutnya tanpa sadar.

Beberapa orang tersenyum tanpa memahami maksud kalimat itu. Hanya Raka yang langsung menoleh.

Nayla melanjutkan dengan percaya diri, menjelaskan warna, konsep, dan tagline. Lalu giliran Raka mempresentasikan aspek teknis desain. Suaranya pelan, tetapi jelas. Tangan yang biasa gemetar ketika berbicara kini lebih stabil.

Ketika presentasi selesai, ruangan hening sebentar.

Lalu tepuk tangan mulai terdengar.

Bu Mira, sang dosen pembimbing, mengangguk puas. “Kalian membuat poster terbaik selama tiga tahun terakhir.”

Raka tersipu, dan Nayla menahan tawa melihatnya.

Fajar menambahkan, “Sponsor juga suka. Mereka bilang konsep ini punya ‘jiwa’. Kalian luar biasa.”

Raka menunduk. Nayla menepuk bahunya pelan. “Good job.”


Setelah presentasi, panitia bubar perlahan untuk sarapan di kantin. Namun sebelum Nayla sempat pergi, Raka menghampirinya sambil membawa ransel.

“Aku… boleh ngomong sebentar?”

“Tentu.”

Mereka keluar gedung dan berjalan ke taman belakang kampus. Hujan sudah berhenti, tapi tanah masih lembap dan udara masih bau tanah yang segar. Di sepanjang taman, bunga kamboja jatuh tertiup angin.

Raka berhenti di bawah pohon besar.

Nayla menatapnya, menunggu.

Raka tampak gugup. Ia mengusap tengkuknya berkali-kali sebelum akhirnya berkata,
“Semalam… aku senang kerja bareng kamu.”

Nayla tersenyum. “Aku juga.”

“Aku… biasanya susah dekat sama orang baru. Tapi sama kamu…” Ia ragu sejenak. “Sama kamu rasanya gampang.”

Nayla menelan ludah. Jantungnya tiba-tiba berdetak cepat.

“Aku nggak tahu ini aneh atau terlalu cepat,” lanjut Raka, “tapi aku pengen kamu tahu. Kamu bikin aku merasa… terlihat.”

Kata itu membuat Nayla terdiam.

Terlihat.
Bukan “dianggap pintar”, bukan “menyenangkan”, bukan “ceria”—tapi terlihat. Dipahami.

Sesuatu di dalamnya hangat.

Nayla menghela napas pelan. “Raka… kamu juga membuat aku merasa didengar. Itu jarang terjadi.”

Raka menatap ujung sepatunya. “Aku… aku cuma takut kamu salah paham.”

“Enggak,” jawab Nayla lembut. “Aku ngerti kok.”

Keheningan turun lagi. Tapi bukan keheningan yang jauh—melainkan keheningan yang membuat hati mendekat.


Namun ketika mereka hendak melanjutkan percakapan, tiba-tiba Santi muncul sambil berlari.

“Nay! Kita mau rapat vendor lima menit lagi! Fajar sudah cari-cari kamu!”

Nayla tersentak. “Hah? Aduh! Aku lupa!”

Santi baru menyadari Raka berdiri di sana. “Oh… kalian lagi ngobrol ya? Maaf. Tapi serius, Nay. Cepetan!”

Nayla menoleh pada Raka. “Nanti kita lanjutin, ya!”

Raka mengangguk cepat. “Iya. Pergi dulu.”

Nayla berlari mengikuti Santi, meninggalkan Raka yang menatap punggungnya pergi.


Rapat vendor berlangsung satu jam penuh. Setelah selesai, Nayla keluar dengan napas lega. Ia langsung mencari Raka, tapi ia tidak ada di sekitar taman, kantin, maupun ruang kreatif.

Dimas yang sedang makan gorengan di tangga berkata, “Oh, Raka? Dia pulang dulu. Katanya mau tidur sebentar, semalam dia nggak benar-benar istirahat.”

Nayla mengangguk, sedikit kecewa. Tapi ia mengerti.

Malam itu, saat ia sedang menulis laporan festival di kamarnya, ponselnya berbunyi.

Raka:
Besok pagi kamu ada kelas?

Nayla tersenyum.
Nayla:
Ada, jam 9. Kenapa?

Raka:
Boleh aku tungguin di depan gedung?

Nayla berhenti mengetik.
Jantungnya berbunyi aneh.

Nayla:
Tungguin? Buat apa?

Butuh satu menit sebelum balasan muncul.

Raka:
Pengen lanjut obrolan tadi. Kalau kamu nggak keberatan.

Nayla memeluk bantalnya.

Nayla:
Oke. Jam 8.30 ya.


Keesokan paginya, langit cerah. Tidak ada hujan. Tapi tanah masih menyimpan aroma lembap yang menyenangkan. Ketika Nayla tiba di gedung fakultas, ia melihat Raka sudah duduk di bangku dekat pintu masuk, memainkan kunci papan tablet design di tangannya.

“Pagi,” sapa Nayla.

Raka berdiri. “Pagi.”

Mereka berjalan ke taman kecil di samping gedung. Tidak seperti kemarin, suasananya sepi. Hanya suara burung dan angin yang lewat di antara pepohonan.

Raka menarik napas panjang. “Kemarin aku belum sempat bilang semua.”

Nayla menunggu.

“Aku nggak… aku nggak langsung suka sama orang. Tapi sama kamu, semuanya terjadi cepat. Mungkin karena kamu gampang ngomong, atau karena kamu selalu lihat hal-hal kecil yang orang lain abaikan.”

Ia menoleh.
Tatapannya jujur.

“Aku suka itu.”

Nayla mendekat setengah langkah. “Raka…”

“Aku nggak minta jawaban sekarang,” katanya cepat. “Aku cuma mau kamu tahu perasaanku. Itu saja.”

Nayla tersenyum. “Aku juga mau kamu tahu sesuatu.”

Raka terdiam.

“Pertemuan kita waktu kamu kecipratan air ke sepatu Santi… itu lucu. Tapi aku pikir, itu langkah kecil yang membawa kita sejauh ini.”

Raka tersenyum—senyum penuh, hangat, bukan yang malu-malu lagi.

“Jadi… kamu marah waktu itu?” godanya.

“Enggak,” jawab Nayla sambil tertawa. “Kalau bukan karena itu, kita mungkin cuma lewat tanpa saling lihat.”

Raka menunduk, tetapi bukan karena gugup—melainkan karena lega.

“Dan…” Nayla melanjutkan, “aku nggak keberatan kalau kamu mau terus ada di sekitar aku.”

Raka mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu yang baru di sana. Lebih lembut. Lebih dekat.

Hujan tipis tiba-tiba turun. Bukan deras—hanya rintik kecil yang jatuh pelan seperti serpihan cahaya.

Nayla menatap langit. “Hujan lagi.”

Raka melangkah setengah maju. “Kamu suka hujan, kan?”

Nayla tersenyum. “Iya.”

Mereka berdiri bersama di bawah rintikan itu. Tidak memakai payung, tidak berlari. Hanya berdiri, seolah dunia sedang mempertemukan mereka untuk kedua kalinya.

Raka berkata pelan,
“Kalau langkah kecil waktu itu bisa bawa aku sampai sini… mungkin aku nggak keberatan jalan lebih jauh sama kamu.”

Nayla menatapnya.
Dan tanpa perlu kata lebih banyak, ia tahu—mereka baru memulai sesuatu.

Di bawah hujan ringan, di halaman kampus sederhana, cinta mereka menemukan langkah pertamanya.


Klik Tombol untuk Dapatkan Link Acak!

Komentar

Postingan Populer